Thursday, July 3, 2008

form follow function or function follow form. (?)

form follow function. i think.

seringkali kita berpikir sebagai seorang mahasiswa arsitek bahwa saat merancang, kita harus mengutamakan bentuk yang indah.
saya pernah terjebak dg pemikiran spt itu.
ketika saya duduk di smt 2 tahun 2008 ini, saya mengambil mata kuliah perancangan arsitektur 1 dan metode program perancangan.
metode perancangan adalah mata kuliah yg mengajarkan bagaimana caranya agar kita dapat memrogramkan ide2 design kita sehingga kita dpt mengatur pola pikir rancangan kita dengan teratur. istilahnya, kita belajar manajemen design.

perancangan arsitektur, adalah muara dari seluruh ilmu arsitektur yg diberikan di kuliah. karena dalam mata kuliah ini, mahasiswa dituntut untuk bisa mempraktekkan apa yg sudah diberikan di kuliah2 teori.
baik dr segi bagaimana awal sebuah design, pemetaan design, proses pembuatan, hingga perhitungan detail dari bangunan yg akan kita buat sesuai dg rancangan kita.

kita singkat saja mata kuliah metode program perancangan itu adalah MPP, dan untuk metode program perancangan adalah PA.
mengapa 2 mata kuliah ini yang akan saya bahas kali ini?
karena di dalam 2 mata kuliah inilah saya mengerti akan form follow function.

dosen pintar saya yang bernama rizal muslimin, mengajarkan banyak hal kepada saya dalam kuliahnya. hal yang membuat dy tampak berbeda dari dosen2 yang lain adalah, dy tidak mengajarkan kepada mahasiswa/i nya bagaimana cara membuat bangunan yang bagus atau indah. tapi ia mengajarkan "bagaimana caranya menghasilkan ide2 brilian agar terlahir sebuah design yang unik/tidak biasa".

arsitek lulusan universitas katholik parahyangan yg sedang menyiapkan dirinya untuk keberangkatannya ke massachuseTts institut of technology ini, tak segan memberikan setiap ilmunya kepada murid2nya, bahkan ia sendiri terkadang tak malu membocorkan kesalahan2 bodoh yang ia lakukan pada saat mendesign suatu bangunan sehingga membuat design nya menjadi "gagal design".

awal teori form follow function. beliau mengatakan pada kami semua sewaktu mengajar di kelas, "Arsitek, adalah seseorang yang merancang suatu ruang sebagai tempat untuk aktivitas manusia".
kata2 pembuka di awal kuliah ini cukup menampar saya, yang selama ini berpikiran lebih fokus terhadap pemahaman bahwa arsitek adalah perancang bangunan yang indah saja. karena kalau rancangan bangunannya biasa2 saja, apa bedanya arsitek dengan sipil atau bahkan mandor?.
setelah mengetahui definisi arsitek sebenarnya, saya jadi sadar bahwa tugas utama seorang arsitek adalah merancang ruang. memrogram tata letak ruang sebagai tempat aktivitas manusia. bukan merancang keindahan terlebih dahulu.
namun tidak sampai disitu saja. begitu pemrograman ruang telah tertata dengan baik, maka tugas penting lain arsitek pulalah, untuk membungkus ciptaannya dengan "kulit" yang sekaligus bisa membungkus benda yang ada di dalamnya, juga dapat memberikan kesan indah pada bentuknya secara keseluruhan.
awesome.
bayangkan, seorang arsitek tidak hanya sekedar merancang, tapi juga harus dpat melahirkan nilai estetika dari sebuah rancangan.

beranjak ke mata kuliah PA.
kisahnya, saya sedang membuat sebuh galeri seni yang akan memuat karya2 seni di dalamnya.
saya mengalami kesulitan ketika saya diharuskan merancang galeri, berlembar2 kertas sketsa berukuran A3 saya habiskan untuk semua ide2 design saya.
akan tetapi saya heran. mengapa tidak satupun ide saya dapat memenuhi kriteria2 yang diberikan oleh dosen saya pada akhirnya.
saya hampir pasrah.
karena, waktu yg diminta untuk rancangan galeri ini hanya sekitar 1 bulan.
belum lagi, saya harus memperhitungkan apakah rancangan yang saya buat dapat dibangun atau tidak, bagaimana dari sisi perhitungannya, gambar kerjanya, bahkan sampai kepada pembuatan miniatur sederhananya.
berkali2 coretan2 ide saya tidak ada yang berhasil. selalu saja gagal.
entah karena itu ada kekurangan di bagian ukuran ruangan yang terlalu besar, kecil, ataupun penempatan ruangan yang tidak memiliki maksud.
pdhal dosen konstruksi saya selalu mengatakan bahwa, "Setiap yang kamu goreskan dengan pensil kamu di atas kertas, memiliki makna yang berarti. Sesederhana apapun itu".

lantas, saya memikirkan kembali pelajaran2 yang sudah diberikan oleh dosen MPP saya.
arsitek merancang ruang - ruang2 sebagai tempat aktivitas manusia - ruang2 tercipta - fungsi terpenuhi - dibungus dengan skin yang indah.
akhirnya saya mengerti.
selama ini jika saya merancang, saya selalu berangkat dari bentuk.
bukan fungsi.
itulah yg mengakibatkan saya selalu saja terbentur hal2 lain pada akhirnya ketika saya sedang mendesign.

sebuah permen ataupun coklat, tidak pernah dibuat mengikuti bungkus yang membelitnya. tapi skg kita dapat mengetahui, mengapa bungkus permen atau coklat spt itu? karena begitulah bentuk isinya.